Ternyata bertakbir di bulan Dzulhijjah seperti ini

Takbir Dzulhijjah 

A. Disyari’atkannya Takbir Dzulhijjah Dzulhijjah merupakan bulan yang di dalamnya terdapat hari raya kaum muslimin yang disebut Idul Adhha. Di antara amalan yang disyari’atkan dalam rangka memeriahkannya ialah takbir. Hal ini dilandasi dengan :

1. Firman Allah :

 وَ اذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ….
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang….” (QS. Al-Baqarah(2) : 203)

 – Ibnul-Jauzi dalam kitabnya Zadul Masir fi ‘Ilmit Tafsir dan Al Baghawi dalam kitabnya Ma’alimut-Tanzil fi Tafsiril-Quran menerangkan bahwa makna “berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” ialah :
  • Bertakbir saat melempar jumrah, setiap selesai shalat shalat, dan di waktu-waktu lain yang masih termasuk waktu-waktu haji. 
  • Bertakbir setelah selesai shalat fardhu. 
 – Ath-Thabari dalam kitabnya Jami’ul-Bayan fi Ta’wilil Quran menjelaskan bahwa Abdullah bin Abbas, Atha’ bin Abi Rabah, Mujahid, Ibrahim, al-Hasan, Isma’il bin Abi Khalid, Qatadah, as-Suddi, ar-Rabi’, adh-Dhahhak, berpendapat bahwa makna “beberapa hari yang berbilang” adalah hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah). Sedangkan maksud dari “berdzikirlah….” ialah berdzikir dengan penetapan keesaan Allah dan pengagungan-Nya dengan bertakbir setiap selesai shalat, dan setiap melempar kerikil pada saat lempar jumrah.

– Al-Qurthubi dalam kitabnya Al-Jami’ li Ahkamil-Quran menyatakan adanya ijma’ ulama bahwa maksud dari “beberapa hari yang berbilang” adalah hari-hari Mina (hari tasyriq).

2. Firman Allah juga :


 … وَ يَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ …. 

 “… dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan….” (QS. Al-Hajj(22): 28)

Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsirul-Quran al-‘Adhim menjelaskan bahwa Ibnu Abbas, Abu Musa al-Asy’ari, Mujahid, Atha’, Sa’id bin Jubair, al-Hasan, Qatadah, adh-Dhahhak, Atha’ al-Khurasani, Ibrahim an-Nakhai, madzhab asy-Syafi’i, dan yang masyhur dari Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa makna “… hari yang telah ditentukan…” pada ayat di atas adalah 10 (sepuluh) hari pada awal bulan Dzulhijjah.

 Di sisi lain, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibrahim an-Nakhai, dan Ahmad bin Hanbal dalam riwayat lain menyatakan bahwa makna “… hari yang telah ditentukan…” ialah hari nahr dan 3 hari setelahnya (tanggal 10-13 Dzulhijjah).

Sedangkan madzhab Abu Hanifah berpendapat bahwa “… hari yang telah ditentukan…” adalah hari Arafah, hari Nahr, dan hari lain sesudahnya.

Sebenarnya, kedua ayat di atas erat kaitannya dengan ibadah haji, akan tetapi disyari’atkannya memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut tidak hanya diperuntukkan kepada kaum muslimin yang sedang berhaji saja. Hal ini diterangkan oleh Lajnah Daimah lil-Buhuts al-‘Ilmiyyah wal-Ifta Saudi Arabia yang diketuai oleh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, dan beranggotakan Abdurrazzaq Afifi, Abdullah bin Ghudayan, dan Abdullah bin Mani’, pada fatwa nomor 1185:

 يستمر التكبير المطلق إلى نهاية آخر يوم من أيام التشريق، ولا فرق في ذلك بين الحاج وغيره

 “Takbir muthlaq berlangsung hingga hari terakhir dari hari-hari tasyriq, tidak ada bedanya antara yang sedang berhaji maupun tidak sedang berhaji.” 

Landasan yang mendasari fatwa di atas ialah dua ayat di atas (Al Baqarah (2) : 203 dan Al Hajj(22) : 28), dan riwayat-riwayat Abu Hurairah, Ibnu Umar, dan Ibnu Abbas yang dikemukakan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq dalam Shahih Bukhari.

Berdasarkan penjelasan di atas, kaum muslimin pada umumnya disyari’atkan untuk memperbanyak dzikrullah pada tanggal 1 – 13 Dzulhijjah lebih dari hari-hari biasanya; 

sedangkan memperbanyak dzikrullah yang dimaksud pada konteks ini -sebagaimana dinukil dari ulama generasi salaf- ialah memperbanyak takbir, atau secara umum ialah memperbanyak tahlil (Lā ilāha illallah), takbir, dan tahmid, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Al-Muntakhab fī Tafsiril-Quran al Karim yang disusun oleh Dewan Ulama al-Azhar pada penjelasan surat Al-Baqarah ayat 203:
 و اذكروا الله بالتكبير و التهليل و التحميد في أيام معدودات…. 
“Ingatlah Allah dengan bertakbir, tahlil, dan tahmid dalam beberapa hari yang berbilang ….” 

 B. Jenis-jenis Takbir Dzulhijjah 


Takbir Dzulhijjah ada dua jenis yakni takbir muthlaqdan takbir muqayyad. (Bisa dilihat dalam kitab Manhajus-Salikin fi Taudhih al-Fiqh fid-Din karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di bab Shalatul-‘Idain, kitab Risalah fil-Fiqh al-Muyassarkarya Syaikh Shalih as-Sadlan bab Shalatul-‘Idain, dan kitab Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Quwaitiyyah karya Kementerian Urusan Wakaf dan Islam Kuwait bab A’malul-Hajj wa Ghairihi Yauman-Nahr). Berikut ini akan penulis paparkan tentang kedua jenis takbir ini :

1. Takbir Muthlaq 

Takbir Muthlaq ialah takbir yang yang dapat dilakukan kapanpun dan di manapun kecuali di tempat-tempat yang tidak layak untuk berdzikir seperti WC, tempat pembuangan sampah atau kotoran, dan sejenisnya.

Takbir jenis ini disyari’atkan terentang mulai tanggal 1 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Bagi laki-laki, takbir ini disyari’atkan dengan jahr (mengeraskan suara) bagi laki-laki; sedangkan bagi wanita, takbir tidak dijahr kan.
 Takbir ini dilakukan di rumah-rumah, jalan-jalan, toko-toko, pasar-pasar, masjid-masjid, lapangan, dan lain-lan. 

Dalil-dalil yang mendasarinya di antaranya ialah : Surat Al-Baqarah (2) : 203 dan surat Al-Hajj (22) : 28 yang telah penulis kemukakan di atas, serta diperkuat dengan riwayat :
 عَنْ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: ” مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَ لَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَ التَّحْمِيدِ

Dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
“Tidak ada hari-hari yang amalannya lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai oleh-Nya daripada amalan yang dilakukan pada sepuluh hari ini (10 hari awal Dzulhijjah), maka perbanyaklah tahlil (Lā ilāha illallah), takbir, dan tahmid pada hari-hari tersebut” ( HR. Ahmad hadits ke-5446 dan 6154, hadits ini pada sanadnya terdapat perawi yang bernama Yazid bin Abi Ziyad yang dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Sa’ad, Ibnu Qani’, an-Nasa’i, dan Ibnu Hajar dengan bermacam-macam istilah mereka, namun dianggap shaduq oleh adz-Dzahabi dengan catatan bahwa Yazid bin Abi Ziyad adalah syi’ah) Riwayat ini hanya dinukil oleh penulis sebagai penguat saja karena pada sanadnya terdapat kelemahan, meskipun sebenarnya riwayat tersebut memiliki syawahid, bahkan di antara para ulama ada yang men-shahihkannya seperti Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh Syu’aib al-Arnauth, lagipula penggalan awal hadits tersebut hingga lafal … al-ayyam al-‘asyr memiliki penguat riwayat shahih dari Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya. Imam Bukhari menyatakan :

 كَانَ ابْنُ عُمَرَ وَ أَبُو هُرَيْرَةَ: يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ العَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ خَلْفَ النَّافِلَة 

“Dahulu, Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar pada sepuluh hari (pertama bulan Dzulhijjah) dengan bertakbir sehingga orang-orang ikut bertakbir karena mendengar takbir mereka berdua; adapun Muhammad bin Ali bertakbir setelah selesai shalat sunnah” (Shahih al-Bukhari bab Fadhl Amal fī Ayyamit-Tasyriq sebelum hadits ke-969) Ta’liq penulis : – Abu Hurairah dan Ibnu Umar merupakan shahabat Nabi yang sangat rajin dan getol mengikuti sunnah Nabi sehingga amalan mereka berdua tersebut berindikasi kuat merupakan sunnah Nabi. – Sejauh pengetahuan penulis, tidak ada shahabat lain yang mengingkari amalan takbir Abu Hurairah dan Ibnu Umar tersebut; hal ini menunjukkan bahwa amalan mereka berdua tidak menyimpang dari sunnah. Imam Bukhari menyatakan sebelum membawakan hadits ke-970 :

 كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ «يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ المَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا» وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ«يُكَبِّرُ بِمِنًى تِلْكَ الأَيَّامَ وَ خَلْفَ الصَّلَوَاتِ وَعَلَى فِرَاشِهِ وَ فِي فُسْطَاطِهِ وَمَجْلِسِهِ وَمَمْشَاهُ تِلْكَ الأَيَّامَ جَمِيعًا»…. 

“Dahulu, Umar –semoga Allah meridhainya- bertakbir di tendanya saat di Mina hingga terdengar oleh orang-orang yang berada di dalam masjid, lalu merekapun bertakbir, orang-orang yang berada di pasar pun bertakbir, maka Mina bergetar dengan gemuruh suara takbir. Dahulu Ibnu Umar juga bertakbir pada hari-hari itu di Mina, pada tiap-tiap selesai shalat, saat di atas tempat tidurnya, di rumahnya, di majlisnya, di jalan-jalan yang dilaluinya….” 

Ta’liq penulis : 


 – Umar bin Khaththab dan Ibnu Umar merupakan dua shahabat yang terkenal dengan sikap disiplin dan ketegasannya dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi, sehingga merekapun tegas terhadap segala penyimpangan terhadap sunnah Nabi. Pada riwayat di atas dinyatakan bahwa mereka berdua bertakbir muthlaq dengan jahr; dari sini menunjukkan memang hal ini disunnahkan. 

– Lebih menguatkan lagi, yang melakukannya adalah Umar bin Khaththab yang merupakan shahabat yang telah direkomendasi Nabi dengan sabda beliau :

 إن الله عز و جل جعل الحق على لسان عمر يقول به 

 “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah meletakkan kebenaran atas lisan Umar yang ia pergunakan untuk berkata-kata”(Hadits shahih, riwayat Abu Dawud dalam Sunannya hadits ke-2962, dan Ibnu Majah dalam Sunannya hadits ke-108, semua dari jalur Abu Dzar) 

  • Muhammad bin Abi Bakr ats-Tsaqafi bertanya kepada Anas bin Malik pada pagi hari menuju ke padang Arafah : “Apa yang kalian amalkan pada hari Arafah ini bersama dengan Rasulullah ?”, Anas bin Malik menjawab : 

كَانَ يُهِلُّ الْمُهِلُّ مِنَّا، فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ، وَيُكَبِّرُ الْمُكَبِّرُ مِنَّا، فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ 

“Dahulu, di antara kami ada yang menaikkan suara untuk bertalbiyah sedang amalannya tersebut tidak diingkari , dan ada yang bertakbir sedang amalannya tersebut tidak diingkari pula” ( HR. Bukhari dalam shahihnya hadits ke-1659, dan Muslim dalam shahihnya hadits ke-1285) 

Jadi, apabila penjelasan-penjelasan di atas digabungkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa takbir muthlaq disyari’atkan mulai tanggal 1 – 13 Dzulhijjah. 

2. Takbir Muqayyad 


Takbir muqayyad ialah takbir yang dilaksanakan tiap selesai shalat wajib lima waktu. Ini disyari’atkan setiap selesai shalat wajib lima waktu dimulai setelah shalat shubuh tanggal 9 Dzulhijjah hingga setelah shalat ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Dalam Fatawa Yas’alūnaka oleh Hisamuddin bin Musa Afanah pada bab at-Takbir fī ‘Idil-Adhha, dijelaskan :

 أما التكبير المقيد فيكون بعد الصلوات المكتوبات و أرجح أقوال أهل العلم أنه يبدأ من فجر يوم عرفة إلى عصر آخر يوم من أيام التشريق 

“Adapun takbir muqayyad dilakukan setelah shalat wajib,dan (menurut) pendapat ulama yang terkuat (dalam masalah ini), bahwasanya takbir muqayyad dimulai dari fajar hari Arafah sampai ashar terakhir hari-hari tasyriq” Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam kitabnya Fathul-Bari bab Takbir Ayyami Mina: 

وأصح ما ورد فيه عن الصحابة قول علي وابن مسعود أنه من صبح يوم عرفة إلى آخر أيام منى 

 “Dan hujjah tershahih yang berkaitan dengan takbir ini adalah berasal dari kalangan shahabat, yaitu perkataan Ali dan Ibnu Mas’ud bahwasanya takbir tersebut dimulai dari shubuh hari Arafah hingga akhir hari-hari Mina” 

Mungkin ada yang bertanya, bukankah tidak ada hadits yang marfu’ dari Nabi yang menjelaskan takbir muqayyad ini ? 

Jawabnya adalah : 
  • Benar, tidak ada hadits marfu’ yang shahih berasal dari Nabi tentang takbir muqayyad, akan tetapi takbir muqayyad merupakan amaliyah shahabat yang masyhur kesetiaan mereka terhadap sunnah, dan sepengetahuan penulis tidak terdapat bantahan dari shahabat lainnya, sehingga dalam hal ini berindikasi kuat merupakan sunnah Nabi.
  • Amaliyah shahabat merupakan contoh teladan pengamalan sunnah Nabi, sebagaimana Ahmad bin Hanbal dalam kitab Ushulus-Sunnah menyatakan :

 أصُول السّنة عندنَا التَّمَسُّك بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَاب رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم والاقتداء بهم 

“Pokoknya sunnah menurut kami ialah berpegang erat dengan hal-hal yang dianut (difahami, diyakini, dan diamalkan, pen.)oleh para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladani (mengikuti) mereka” 

Lebih dalam lagi, cermati hadits-hadits berikut :  

Sabda Rasulullah :

 … إِنَّ بني إسرائيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً» ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي» 

 “… Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 millah, dan umat ini akan terpecah menjadi 73 millah, mereka semua di neraka kecuali satu millah” Shahabat bertanya : siapa yang dimaksud dengan satu millah itu wahai Rasulullah ? , Rasulullah menjawab :“(mereka yang berpegang dengan) apa-apa yang dianut oleh-ku dan para shahabatku”.
(HR. Tirmidzi hadits ke-2641, dan dinyatakan hasan lighairih oleh Al-Albani) Sabda Rasulullah :

 …. وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا ,فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ , فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ 

“… dan sesungguhnya barang siapa yang hidup (sepeninggalku) akan menyaksikan banyak perselisihan, maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah al-khulafa’ ar-rasyidin al-mahdiyyin, gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, dan jauhilah perkara-perkara yang baru dalam agama ini karena semua bid’ah adalah sesat”
(HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra hadits ke-20338, juga diriwayatkan semakna dengannya oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya, Al-Albani menshahihkan dalam tahqiqnya terhadap kitab Misykatul-Mashabih) 

Pada kedua hadits tersebut Rasulullah mengisyaratkan agar umat mengikuti tuntunan beliau dan para shahabat beliau, lebih-lebih lagi shahabat yang levelnya adalah al-Khulafa’ ar-Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib).Sedangkan telah diketahui bahwa takbir muthlaq dan takbir muqayyad dilakukan oleh para shahabat bahkan masyhur pula dari Umar dan Ali yang mana keduanya termasuk al-Khulafa’ ar-Rasyidin.Dari sini, jelaslah bahwa kedua jenis takbir tersebut juga merupakan tuntunan agama. 

Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni pada bab Mas’alatut-Takbir Yauma Arafah menyampaikan bahwa Ahmad bin Hanbal pernah ditanya oleh seseorang tentang dalil yang beliau gunakan untuk menetapkan bahwa takbir dimulai dari shubuh hari Arafah hingga akhir hari tasyriq; maka beliau menjawab :

 لإجماع عمر وعلي وابن عباس وابن مسعود رضي الله عنهم ولأن الله تعالى قال: (وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ) وهي أيام التشريق فتعين الذكر في جميعها ولأنها أيام يرمى فيها فكان التكبير فيها كيوم النحر. وقوله تعالى: (وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ) والمراد به ذكر الله تعالى على الهدايا والأضاحي 

“Karena adanya ijma’ (kesepakatan) Umar, Ali, Ibnu Abbas, dan Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridhai mereka- , dan karena Allah berfirman : “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (Al-Baqarah : 203) yaitu hari-hari tasyriq, maka dzikir tersebut tertentukan pada seluruh hari-hari tasyriq itu, hari-hari itu merupakan hari lempar jumrah maka takbir dilakukan sebagaimana hari nahr, dan firman Allah : “… Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan….”(Al-Hajj :28), yang dimaksud ialah ingat kepada Allah (dzikrullah) atas karunia-karunia-Nya dan hewan-hewan qurbannya.” 

Perlu diketahui juga bahwa Ats-Tsauri, Ibnu Uyainah, Abu Yusuf Al-Hanafi, Muhammad bin Hasan Al-Hanafi, Asy-Syafi’i dalam suatu riwayatnya, dan An-Nawawi juga berpendapat demikian. 

Al-Baihaqi dalam kitabnya as-Sunan al-Shugra bab as-Sunnah fī ‘Idain menukil pernyataan Asy-Syafi’i sebagai berikut 

: وَقَدْ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ كَانَ يَبْتَدِئُ التَّكْبِيرَ خَلْفَ صَلَاةِ الصُّبْحِ يَوْمَ عَرَفَةَ وَأَسْأَلُ اللَّهَ تَوْفِيقَهُ 

“ Dan telah diriwayatkan dari sebagian generasi salaf bahwasanya takbir dimulai setelah shalat shubuh pada hari Arafah dan aku memohon kepada Allah taufiq-Nya”

 وَحَكَى الشَّافِعِيُّ أَيْضًا عَنْ بَعْضِهِمْ أَنَّهُ يُكَبِّرُ حَتَّى يُصَلِّيَ الْعَصْرَ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ 

Asy-Syafi’i juga meriwayatkan dari sebagian generasi salaf bahwa takbir tersebut berlangsung hingga shalat ashar pada akhir hari tasyriq Lebih spesifiknya bisa dicermati dari dalil-dalil berikut : 

  • Atsar shahih dari Umar bin Khaththab :

 عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عُمَرَ «أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ يَوْمَ عَرَفَةَ، إِلَى صَلَاةِ الظُّهْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ» 

Dari Ubaid bin Umair, dari Umar, bahwasanya dia dahulu bertakbir mulai dari shalat shubuh pada hari Arafah hingga shalat dhuhur pada akhir hari tasyriq (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya, riwayat nomor 5635, Al-Hakim dalam mustadraknya riwayat nomor 1112) 
  • Atsar shahih dari Ali bin Abi Thalib :
 عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَلِيٍّ «أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَوْمَ عَرَفَةَ، إِلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ، وَيُكَبِّرُ بَعْدَ الْعَصْرِ» 
Dari Abu Abdirrahman, dari Ali, bahwasanya dia dahulu bertakbir setelah shalat shubuh pada hari Arafah hingga shalat ashar pada akhir hari tasyriq, dan ia bertakbir setelah shalat ashar(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibahdalam mushannafnya riwayat nomor 5631, Al-Albani berkata di Irwaul-Ghalil pada keterangan hadits ke-653 :“shahih dari Ali)
  •  Atsar shahih dari Ibnu Abbas:
 عَنْ عِكْرِمَةَ,عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَوْمَ عَرَفَةَ، إِلَى آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ، لَا يُكَبِّرُ فِي الْمَغْرِبِ 

Dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwasanya dia dahulu bertakbir mulai dari shalat shubuh hari Arafah hingga shalat ashar akhir hari tasyriq, dia tidak bertakbir pada shalat maghrib (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya, riwayat nomor 5646, sanadnya shahih) 
  •  Atsar shahih dari Ibnu Mas’ud :
 عَنْ عُمَيْرِ بْنِ سَعِيدٍ، قَالَ: قَدِمَ عَلَيْنَا ابْنُ مَسْعُودٍ فَكَانَ «يُكَبِّرُ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ يَوْمَ عَرَفَةَ إِلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ»

Dari Umair bin Said, ia berkata : Ibnu Mas’ud mendatangi kami, dia bertakbir mulai dari shalat shubuh hari Arafah hingga shalat ashar hari tasyriq (Riwayat Al Hakim dalam al-Mustadraknya riwayat nomor 1115) 
  •  Terdapat hadits mursal di mushannaf Ibnu Abi Syaibah riwayat nomor 5647 :

 حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، قَالَ: أنا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ،عَنِ الزُّهْرِيِّ، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ يَوْمَ عَرَفَةَ، إِلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ» 

Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami, ia berkata Ibnu Abi Dzi’bi mengabarkan kepada kami dari Zuhri bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu bertakbir dari setelah dhuhur hari Arafah hingga akhir hari tasyriq. 

Ta’liq penulis : 

Hadits ini termasuk hadits mursal karena Zuhri adalah seorang tabi’in thabaqat kedua, namun harap diperhatikan bahwa Zuhri di sini adalah Ibnu Syihab Az-Zuhri (Muhammad bin Muslim bin Syihab bin Ubaidillah bin Abdillah az-Zuhri) yang sangat terkenal keimamannya, ketsiqahannya dan kealimannya, Ibnu Hajar berkata tentang beliau bahwa beliau adalah al-faqih al-hafidh yang disepakati kebesarannya dan keilmuannya, sedangkan Ibnu Abi Dzi’bi adalah Muhammad bin Abdurrahman al-Amiri yang merupakan salah satu murid Ibnu Syihab az-Zuhri yang terkenal sebagai Syaikhul-Islam, sedangkan Yazid bin Harun adalah murid Ibnu Abi Dzi’bi yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar sebagai tsiqah, mutqin, dan ‘abid. Jadi walaupun hadits ini mursal namun karena yang membawakan adalah sekelas Zuhri, Ibnu Abi Dzi’bi, dan Yazid bin Harun maka kecenderungan makna hadits tersebut dapat dipakai karena tidak mungkin ulama sekelas mereka berkata dengan hawa nafsu, sebab apabila seorang perawi diketahui satu kali saja berkata sembarangan maka dia akan dijarh dan ditinggalkan; pada kenyataannya Ibnu Syihab az-Zuhri tetap bersinar sebagai seorang ulama dipuji para ulama lainnya; maka,ini menunjukkan kemuliaan beliau dan shidq(kejujuran dan ketulusan) beliau. Cukup penulis membawakan pernyataan Malik bin Anas sebagai salah satu pujian kepada beliau di antara pujian yang ditujukan kepada Ibnu Syihab az-Zuhri; Malik bin Anas berkata yang diriwayatkan oleh Mutharrif bin Abdillah :

 مَا أَدْرَكْتُ بِالْمَدِينَةِ فَقِيهًا مُحَدِّثًا غَيْرَ وَاحِدٍ، فَقُلْتُ لَهُ: مَنْ هُوَ؟ فَقَالَ ابْنُ شِهَابٍ الزُّهْرِيُّ 

 “Aku tidak menemukan seorang ahli fiqih dan ahli hadits di kota Madinah kecuali satu orang”. Aku (Mutharrif) bertanya : “siapa dia ?”. Malik bin Anas menjawab : “Ibnu Syihab az-Zuhri”. (Kitab at-Thabaqat al-Kubra karya Abu Abdillah Muhammad bin Sa’d bin Mani’ al-Hasyimi dalam pembahasan tentang Ibnu Syihab az-Zuhri). 

Memang status hadits mursal diperselisihkan para ulama; 

– Jumhur muhadditsin, ushuliyyin, dan fuqaha menganggap hadits mursal adalah lemah dan tertolak; alasannya ialah perawi yang dihilangkan namanya tersebut tidak diketahui keadaannya, bisa jadi ia mendapatkan riwayat itu bukan dari shahabat. 

– Abu Hanifah, Malik bin Anas, yang masyhur dari Ahmad bin Hanbal, dan sebagian ulama yang sependapat menyatakan bahwa hadits mursal dapat dikatakan shahih dan dijadikan hujjah manakala yang memursalkannya adalah tsiqah dan ia tidak memursalkannya kecuali dari perawi yang yang tsiqah pula. Alasan mereka ialah tabi’in yang tsiqah bisa saja menyatakan : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : … “ jika ia mendapatkannya dari perawi yang tsiqah. 

 – Asy-Syafi’i dan sebagian ulama yang sependapat menerima hadits mursal dengan empat syarat, yaitu: 

(1) Yang memursalkannya adalah tabi’in besar, 

(2) Apabila perawi yang memursalkan ditanya darimana ia mendapatkan hadits itu, ia dapat menyatakan bahwa itu berasal dari seseorang yang tsiqah, 

(3) Yang memursalkannya dhobith yang tidak diselisihi perawi-perawi dhobith lainnya 

(4) Syarat keadaan haditsnya ialah : 
  • Hadits yang dimursalkan memiliki riwayat lain secara musnad 
  • Atau hadits tersebut diriwayat dari jalur lain secara mursal oleh seorang perawi yang mengambil riwayat dari perawi-perawi yang bukan merupakan perawi hadits mursal yang pertama tersebut. 
  • Atau isi hadits bersesuaian dengan pernyataan para shahabat. 
  • Atau makna hadits tersebut difatwakan oleh mayoritas ulama. 
(Lihat kitab Taisir Musthalahil-Hadits karya Mahmud ath-Thahhan dalam bab hadits mursal). 
Jadi, karena yang memursalkannya seorang tabi’in tsiqah dhabith (meskipun Ibnu Syihab seorang tabi’in thabaqat kedua), dan makna hadits tersebut juga terdukung oleh periwayatan lain dari pengamalan shahabat maka kecenderungannya adalah bahwa isi/makna hadits tersebut dapat diamalkan walaupun dalam penisbatannya kepada Nabi masih ada nadhar (masih perlu diteliti kembali) karena pada kenyataannya hadits tersebut mursal. 

Wallahu a’lam

Kesimpulan :
  1. Atsar tentang takbir muthlaq dan muqayyad yang berasal dari shahabat sebenarnya banyak periwayatannya dan saling menguatkan, namun tentunya tidak semua dapat dipampangkan dalam risalah ini, maka penulis cukupkan dengan membawakan atsar-atsar di atas karena hujjah di atas sudah cukup kuat untuk dijadikan sandaran 
  2. Takbir Dzulhijjah disyari’atkan dengan dua macam takbir : takbir muthlaq dan takbir muqayyad. 
  3. Takbir muthlaq yang dilaksanakan kapanpun dan di manapun (kecuali di tempat-tempat yang tidak layak) dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah hingga akhir hari tanggal 13 Dzulhijjah. 
  4. Takbir muqayyad yang dilaksanakan setiap selesai shalat wajib dimulai setelah shalat shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga setelah shalat ashar tanggal 13 Dzulhijjah.Wallahu a’lam bish-shawab
Ditulis oleh: Ust Abu Hasan Saif, Mudir Pondok pesantren Daarut Taqwa

Tidak ada komentar untuk "Ternyata bertakbir di bulan Dzulhijjah seperti ini"

Berlangganan via Email